My world written

duniaku kutuliskan…

Bad days pasti akan berlalu

Membaca ini, secara sadar aku mengakui memang sekarang dalam posisi yang sama. Di lembah yang sama sekali tidak mengenakan untuk berlama-lama…

Kelamnya lembah ini mulai kurasakan ketika aku mendapat email dari perusahaan tempat di mana aku merencanakan akan melakukan kerja lapangan mengumpulkan data primer untuk penulisan desertasiku.

Awal mulanya

Sejak sebelum aku berangkat ke Canberra untuk memulai studi doktoralku, dengan dibantu teman-teman di fakultas, aku telah memulai hubungan baik dengan perusahaan itu.. Kami sempat ke sana sebelum aku berangkat ke Canberra untuk berinteraksi dengan para manajer dan staf di lapangan. Memformulasikan riset yang akan kukerjakan dan mendapatkan feedback dari mereka. Alhamdulillah so far so good. Aku menyusun proposal ringkas untuk melamar supervisor dan sponsor dengan topik dari perusahaan tersebut.

Di Canberra

Setelah aku tiba di Canberra dan memulai risetku secara resmi sebagai mahasiswa doktoral di ANU, aku memoles dan menajamkan proposal berdasar hasil kunjungan ke lapangan sebelum keberangkatanku juga hasil bacaan pada literatur tentang riset yang akan kulakukan. Banyak tawar menawar dengan panel supervisor dan so far so good juga. Rencana riset mulai terbentuk dan aku semakin optimis. Sejalan dengan proses penyusunan proposal, aku terus melakukan kontak dengan perusahaan via email. Bertukar informasi dan konfirmasi tentang pemahamanku tentang situasi yang ada di lapangan. Masih dengan dukungan penuh dari fakultas dan teman-teman di kampus di UGM. Aku juga sempat request data yang dimiliki perusahaan, dan mereka juga mengirimkan padaku.

Akhirnya, seminar proposal. Alhamdulillah lancar! Mulailah aku menyusun protokol pengambilan data di lapangan. Risetku berorientasi pada pengukuran dan pemodelan perubahan keadaan biofisik di lapangan. Risetku fokus pada pertumbuhan pohon di hutan gambut dan bagaimana dampak pengelolaan hutan gambut sebagai produser kayu pada kemampuannya menyimpan karbon. Topik yang sangat seksi kukira. Belum banyak yang melakukannya di hutan gambut. Dan ketika topik ini kuutarakan ke manajemen perusahaan ketika kunjungan kami sebelum keberangkatanku ke Canberra, mereka menunjukkan minatnya karena hasil dari risetku ini dapat digunakan untuk menghitung secara finansial berapa penghasilan perusahaan jika ingin berjualan karbon selain atau bahkan menggantikan kayu sebagai produk mereka!

Masa Penantian dan jawabannya

Penantian mulai berasa, ketika kukirimkan ke perusahaan apa saja detil kegiatan lapangan yang akan kulakukan di sana tiga bulan sebelum tanggal yang kurencanakan akan memulai pekerjaan lapangan. Aku menetapkan tanggal itu dengan mempertimbangkan saran dari teman yang sebelumnya melakukan riset lapangan di sana. Dua bulan kumenanti dan tiada respon dari perusahaan. Aku masih cukup optimis, dan berharap nanti setelah tiba di Indonesia aku bisa mengontak mereka per telepon untuk konfirmasi detil pekerjaan lapangan dan lain-lain. Hingga akhirnya kuterima respon itu dari mereka via email 5 hari sebelum keberangkatanku ke Indonesia untuk pekerjaan lapangan itu di pagi hari ketika aku mulai hariku. Ketika segala hal teknis dan non teknis yang berkaitan dengan riset dan urusan anak-anak, tempat tinggal kami dan lain-lain sudah dipersiapkan dengan matang. Jawaban mereka adalah mereka menolak keinginanku masuk ke lapangan/ hutan yang merupakan wilayah konsesi dan pengelolaan mereka dengan alasan mereka perlu konsentrasi mengejar target produksi.

Dunia serasa runtuh. Tidak tau lagi apa yang mesti kulakukan. Setres. Bingung. Aku mungkin memang terlalu banyak berharap. Terlalu ‘menggantungkan’ risetku, hampir seluruh bagian pada satu gantungan. Perusahaan itu. Aku menyusun proposal, memformulasi pertanyaan riset, menyusun protokol pengukuran di lapangan berdasar apa yang ada di perusahaan itu.

Siang itu mestinya aku ada progress meeting dengan main supervisor. Alhamdulillah, dia lupa! Entah apa yang akan terjadi jika jadi ada meeting itu. Aku pasti akan menangis bombay di depannya.. setelah makan siang sang supervisor mengirimkan email meminta maaf dia lupa dengan appointment untuk meeting itu dan menanyakan nomor telepon di ruangku untuk dapat catch up barang beberapa menit. Kubalas emailnya dan kukabarkan aku punya kabar tidak bagus. Kemudian dia menelepon dan kuceritakan yang terjadi sambil menahan diri supaya tidak menangis. Malu! Dia menghibur,

it’s annoying but it’s not the end of the world.

Betul. Aku mengiyakan apa katanya. Tapi aku benar-benar tidak tahu apa yang akan kulakukan untuk risetku selanjutnya dan juga studiku. Yupe, I’m in that valley…

Rescue plans

Kami bersepakat untuk bertemu beberapa hari kemudian. Aku mencoba meminta tolong ke teman di fakultas untuk dapat mencari jalan keluar dari persoalanku ini. Teman berjanji akan menolongku untuk dapat meminta dekan di fakultas bersedia menandatangani surat untuk perusahaan itu. Intinya meminta ijin akses masuk ke lapangan untuk melakukan riset di lapangan. Aku pun membalas email dari perusahaan. Kutulis bahwa aku sangat memahami situasi mereka dan tetap berharap bahwa penolakan ini hanyalah sementara dan akses ke lapangan dapat dijadwalkan ulang sesuai dengan jadwal kegiatan produksi mereka sehingga tidak menimbulkan gangguan yang signifikan.

Meeting dengan supervisor sebelum keberangkatanku ke Indonesia. Kuceritakan perkembangan ‘rescue action’ yang bisa diharapkan dari fakultas di Jogja. Dia sepakat dan menyarankanku untuk tetap pulang ke Indonesia, break sejenak dan menunggu respon perusahaan atas surat dari dekan di kampus.

Pulang dan hasilnya

Akhirnya aku mudik. Menikmati break yang sudah pasti tak bisa kunikmati.. karena otakku memaksaku untuk mencari ‘jalan keluar’ untuk menyelamatkan studiku.

Setelah menunggu jawaban dari perusahaan atas surat dekan selama hampir 3 minggu. Mereka merespon dengan menanyakan apa detil kegiatan di lapangan yang akan dilakukan. Kembali teman di kampus memformulasikan jawaban untuk pertanyaan perusahaan. Intinya kami akan melakukan penelitian seperti apa yang sudah/ sedang kami lakukan di pengelolaan hutan di tanah mineral untuk diaplikasikan di hutan gambut. Dengan lampiran berupa matriks pertanyaan-pertanyaan riset, pendekatan, dan orang yang bertanggungjawab. Tanpa menyebut sama sekali namaku atau risetku sama sekali. Berharap ada respon positif sama dengan yang kami dapatkan dari salah satu manajemen di perusahaan hutan di tanah mineral, kami kirimkan surat berisi detil kegiatan lapangan itu. Dan sampai sekarang! tidak ada respon dari perusahaan.

Memang sangat tidak lazim ada isu penolakan ini. Apalagi so far teman-teman di fakultas dan aku terus menjalin komunikasi cukup baik dengan perusahaan. Apa pun alasannya menjadi tidak penting. Yang lebih penting bagaimana menyelesaikan studiku.

Selama di Indonesia aku terus berkomunikasi dengan panel supervisor dengan mengajukan alternatif-alternatif topik dan pendekatan yang dapat digunakan untuk menyelesaikan riset dan disertasi. Mostly my proposals were rejected.. karena idenya menjadi tidak novel lagi, kontribusinya menjadi biasa-biasa saja, pendekatannya menjadi tidak ‘istimewa’ dan unik. Atau sebenarnya karena aku yang tidak pintar memformulasikannya ya? Ih mungkin bisa jadi memang iya!

Jalan lain yang kutempuh adalah merangkum data yang dimiliki fakultas dan mem-propose panel apa yang bisa dilakukan dengan data itu, pekerjaan lapangan apa yang bisa kulakukan untuk memperkaya riset sehingga at least sufficient as PhD project. Sudah sangat putus asa! Aku hanya berharap jangan sampai gagal.. sudah terlalu banyak pengorbanan orang lain (baca: suami dan keluargaku) untuk mendukungku.

Akhirnya ‘masa riset lapangan’ yang kususun sejak masih di Canberra menjelang berakhir. Main supervisor menelepon dan meminta saya untuk ‘pulang’ saja ke Canberra.

Kembali ke Canberra

Saya kembali ke Canberra dengan betul-betul hampa. Tidak ada data di tangan, apa lagi ide di kepala. Berbagai opsi rencana baru sudah berusaha saya ajukan ke panel and it just did not work. Panel menyatakan menyerah dan tidak berharap lagi dengan data dari Indonesia. Mereka mengusulkan untuk mengerjakan data yang ada di Australia. Beberapa pendekatan yang sudah saya pelajari untuk konteks hutan gambut masih dapat ‘diselamatkan’ untuk dapat digunakan dalam analisis data yang baru. Tantangan lain: biaya riset yang membengkak karena tetap diperlukan pengukuran di lapangan dan pengambilan sampel untuk analasis laboratorium. Sponsor sudah dihubungi dan dilapori tentang perkembangan studi terbaru dan menunjukkan siap mendukung. At least, jika memang perlu tambahan waktu di belakang hari, mereka tidak kaget dan urusannya tidak perlu panjang kali lebar sama dengan luas. Bagaimana pun persoalannya bukan aku yang dapat menjawab, meski berbagai alternatif penyelamatan sudah kutawarkan.

Sampai saat tulisan ini dipublish masih banyak tantangan yang masih belum terjawab. Kami masih dalam proses tawar menawar dalam memformulasikan pertanyaan riset dan pendekatannya agar the whole idea is sufficient as PhD project, yang harus novel and has contribution to body of knowledge dengan constraint waktu dan biaya riset yang mepet. Yupe I’m still in that valley.. but I’m still optimist that I will survive.. ‘hanya’ perlu kerja lebih keras lebih total sepenuh hati dan sekuat otak dan tenaga.. setotal dukungan orang-orang tercinta kepadaku. Karena kita betul-betul tidak tau kapan ‘hasil’ akan diperoleh.. so maju terus dan kerja lebih keras! Ini ‘hanya’ seperti berjalan di terowongan gelap yang pasti akan bermuara pada terangnya cahaya.. Aku mencoba tetap optimis seperti yang dikatakan tulisan tentang lembah itu.

Suatu ketika nanti akan ku update bagaimana hasil dari optimisku itu.. tetap semangat!

Terima kasih sudah mau membaca. 🙂

Advertisements

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: